Sunday, 16 February 2020

Kasih Mak

Writer: Ibnatul  Mardhiyah
  Cairo 4 November 2019 
 “Tok-tok... Assalamualaikum,” suara itu terdengar dari sudut pintu belakang. Dengan segera Bu Salju membuka pintu. Ia terpena seketika, setelah melihat seseorang dibalik daun pintu. Dengan perasan seperti dalam mimpi dan berlinang air mata, bu Salju langsung memeluk anaknya yang selama ini ia nantikan kepulangannya. Ibu yang dikenal dermawan itu segera bergegas ke dapur guna menyiapkan makanan untuk anaknya. Seperti setiap ibu pada umumnya, Bu Salju langsung menyiapkan makanan tradisional khas Gayo untuk anaknya yang telah lama tak pulang ke rumah. 
Mak ku...” Suara itu adalah panggilan dari anaknya Kamal, yang sudah tiga tahun meninggalkan kampung halamannya untuk menuntut ilmu di negeri Taj Mahal. 
Memang tak ada yang menyangka kalau pemuda yang tampan ini berasal dari dataran tinggi Gayo Lues  yang dikenal dengan negeri seribu bukit. Banyak orang yang bilang kalau dia mirip dengan orang Medan. Dengan cepat ibunya menyuguhkan makanan kesukaannya diwaktu kecil,  gegaluh[1] namanya. 
Greng-greng...  
Dengan cepat Kamal menuju pintu belakang rumah, tempat biasa bapaknya memarkirkan kereta merek Supra X  yang sudah sudah sepuluh tahun belakangan ini menemani ayahnya ke sawah dan mencari kerbau-kerbau. Yang  dengan kerbau tersebut ayahnya dapat membiayai anaknya sekolah sampai luar negeri
“Anakku...” 
Kata itulah yang pertama keluar dari mulut bapaknya ketika melihat anaknya pulang dari perantauan. Dengan nampak tegar dan kuat, bapak menahan air mata, berbeda dengan ibu yang belakangan ini sering menyebut nama Kamal dalam tidurnya. 
Tak lama kemudian keluarga yang lain juga berdatangan ke rumah karena kepulangannya selama ini selalu di nantikan. Kamal juga tak mau kalah dengan suguhan makanan dari ibunya, ia pun membuka koper bawaannya yang terbungkus dengan rapi dengan lakban. Satu persatu barang yang didalamnya dikeluarkan. Ia pun menunjukkan pada keluarganya kain yang bercorak emas itu. Ya, kain adalah kain sari (kain khas india) yang selama ini hanya mereka lihat di televisi film hollywood, kini hadir di hadapan mereka. Dan barang kedua pun di keluarkan, barang itu tak asing di mata mereka itu adalah ladu (manisan) yang sering mereka lihat di film Krisna. Memang semua informasi yang mereka dapatkan selama ini kebanyakan dari televisi, dikarenakan sinyal internet di kampung mereka sering mati dan bahkan pernah dicuri dari towernya, sehingga Bu Salju harus pergi ke kabupaten dulu untuk mengabarkan kepada Kamal kalau uang bulanannya sudah dikirim.
Semua orang larut dalam pertemuan ini, hingga sayup-sayup adzan maghrib pun mulai terdengar dari masjid An-Nur, yang terletak tidak jauh dari rumah Kamal. Dengan cepat Kamal, Ayah serta pamannya bergegas wudhu untuk menunaikan shalat maghrib berjemaah di masjid. Ketika sudah menunaikan shalat, tiba-tiba ada perasaan takjub dan terharu yang terngiang di pikiran Kamal melihat suasana masjid yang cukup ramai di hadiri mulai dari orangtua, sampai anak –anak kecil yang berlarian di teras masjid menunggu orang tua mereka. 
“Kamal...!” suara itu berasal dari belakang Kamal. dengan cepat ia menoleh ke arah suara itu.  ia tersenyum melihat wajah yang biasa ia jadikan tempat mencurahkan unek-unek dan masalah dalam dirinya. Iya, dia biasa  memanggilnya dengan Ujang.
“Kapan kamu pulang Win[2]?”
Dengan senyum semringah Ia menjawab,
 “kemarin Jang...!” 
“Alhamdulillah akhirnya kamu pulang juga Win... Mak kamu sering nangis kalau dengar kabar pemboman di luar negeri. Padahal, mungkin negara tersebut ribuan mil jaraknya dari tempat kamu... haha.”
Kamal tersenyum dan terharu mendengar ocehan Ujangnya, Ia tahu betapa besar Ibu menyayanginya. Apalagi ayah yang rela pergi pagi pulang malam untuk memenuhi agar dapur Bu Salju tetap mengepul. Bukan mencari berlian seperti dalam lyric lagu band Wali.
Satu-persatu para jemaah mulai meninggalkan masjid, perbincangan Kamal dan Ujangnya masih tetap berlanjut hingga mereka  duduk di warung kopi Pak cik Mansur. Warung yang sudah berdiri sejak zaman Indomie merk Sakura masih tetap kokoh berdiri hingga sekarang, walaupun ada barang-barang yang ditambah seperti Televisi, yang kata pak cik Mansur sebagai bentuk jampi-jampi di era modern. Bagaimana tidak, anak muda  rela berbondong -bondong datang dari kampung sebelah hanya untuk menyaksikan tim kesayangannya menerobos gol ke gawang lawannnya. Apalagi,warung ini menyediakan wedang jahe, kopi hitam,dan tentunya gorengan hangat yang siap menemani mereka hingga pluit panjang dari wasit, pertanda permainan sudah selesai.
Ujang mengatakan sering mampir di warung ini walaupun tidak selama anak-anak muda yang rela begadang hingga kokok ayam bersahutan. Mengingat, ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ujang juga menimpali mungkin mereka lupa dengan lagu bang Rhoma Irama.
“Begadang jangan begadang... begadang tak ada gunanya... begadang boleh saja tapi ada artinya...” lagu itu keluar dari mulut Ujang, dengar suaranya yang dikenal merdu yang menurut Kamal sekarang udah mulai agak karuan akibat merokok.
Satu persatu memori yang pernah singgah di benak Kamal dulu kini terkuak kembali. Hingga lupa kopi hitam yang di suguhkan pak cik Mansur mulai dingin, ditambah angin malam yang lumayan menusuk sampai ke tulang kering. Bagaimana tidak daerah yang Kamal tinggali berada di daerah dataran tinggi Gayo, yang suhunya bisa mencapai sepuluh derajat celcius; karena di apit ribuan gunung yang masih asri. walaupun ada beberapa petani yang tamak berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk menggarap lahan baru yang merusak keindahan alam.Ujang banyak bercerita tentang kemajuan daerah mereka yang sekarang sudah mulai berkembang di banding masa GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Ujang menambahi, dulu waktu kamu masih kecil bibimu pernah pulang dari kebun dengan keringat dingin mencucur dari seluruh tubuhnya. 
“Memang bibi kenapa Jang?!” Tanya Kamal penasaran. 
“Sewaktu bibimu memetik kopi, tiba tiba suara tembakan terdengar dari puncak gunung. Sejak itu banyak orang yang tidak berani keluar rumah untuk berkebun. Akibatnya, ekonomi masyarakat menurun dan hanya makan seadanya.
Tapi Kamal tidak ingin mengingat pengalaman yang buruk. Seingatnya sewaktu kecil dia hanya bermain riang bersama temannya. Naik gunung turun gunung, mandi di sungai, dan mencari belut di pematang sawah. Kamal  memang terkenal jago mencari belut di kampungnya, tapi itu semua tidak sesuai dengan keinginan Ibunya. Ibu hanya ingin Kamal bermain dalam batas waktu tertentu, tanpa harus mengorbankan waktu mengerjakan PR. 
Kamal ingat pernah merasa kesal dengan ibu karena dibatasi waktu untuk mencari belut yang merupakan kegemarannya sehari hari. Walaupun akhirnya Kamal rela meninggalkan hobinya, karena diiming-imingi akan dibawa jalan-jalan ke kabupaten kalau mendapat juara kelas. Apalagi, waktu itu jalan-jalan ke kabupaten merupakan hadiah terindah yang tidak ada tandingannya. Mengingat transportasi ke kabupaten hanya sedikit dan orang tertentu saja yang bisa mendapatkannya.Mimpi Kamal akhirnya terwujud setelah belajar dan djisamsu (jihad sampai subuh) di waktu menghadapi ujian. Walaupun metode ini kurang bagus, tapi akhirnya Kamal berhasil mendapatkan hadiah tersebut dari Ibunya.
Tak terasa pukul menunjukan 21:30. Perbincangan Kamal dan Ujangnya berlangsung dengan cepat hingga Ujang pamit duluan ke rumah dan Kamal pun segera menyusul. Ketika sampai rumah ia dapati ibunya belum tertidur.
“Mak, kenapa belum tidur?”
“Apa kamu tidak ingat nak? besok kita ada acara jamu saman[3]
Sejenak Kamal teringat tari yang pernah ia bawakan bersama teman-temannya sesama mahasiswa dahulu. Mereka mewakili indonesia di kancah internasional di Delhi. Dan tentunya ini menjadi kabar baik bagi mahasiswa, karena mereka akan diberikan uang saku   dari KBRI sebagai ucapan terima kasih. Rasanya itu sebuah prestasi yang tak akan terlupakan sepanjang masa. 
Bu Salju masih sibuk dengan dodol yang sedang di aduknya untuk para tamu besok. Dodol memang salah satu makanan khas Aceh yang tak boleh dilupakan di hari-hari besar, makanan  
yang terbuat dari tepung ketan, santan, dan gula ini memang sangat dicintai masyarakat Aceh umumnya, bukan hanya itu bu Salju juga menyiapkan rendang daging yang menjadi masakan teristimewa. Apalagi daging ini hanya bisa dinikmati di hari-hari besar saja, walaupun masyarakat di kampung banyak pengembala kerbau tapi untuk sehari-hari lebih suka mengkonsumsi ikan tawar. Apalagi daerah Gayo jauh dari laut, dan kondisi ini   menyebabkan  harga ikan laut pun jauh lebih mahal dibandingkan ikan tawar.
“Allahu akbar... Allahu Akbar” suara adzan mulai dikumandangkan.
“Kamal...!” Teriakan ibunya terdengar dari dapur.
 “Iya Mak...” Sahut Kamal dari dalam kamar.
“Shalat subuh nak...”
Kamal bergegas wudhu dan shalat berjamaah bersama bapak. Setelah shalat di dapur ternyata adik perempuannya yang ia panggil ina sudah bangun duluan dan membantu memasak bersama ibu. Kamal juga sangat bangga dengan ibunya, bukan hanya rajin, tapi karena sikap tegas ibu lah ia bisa sampai sekolah ke luar negeri.
“Kamal...!” Panggil bapak.
“Iya pak...”
“Kamu mau ikut?“ 
“Kemana pak?“
“Ke rumah nenekmu.“
“Iya Pak. Saya ikut.”
Neneknya memang sangat sayang kepada Kamal, bukan hanya karena sekolah di luar negeri. Tapi Kamal lah salah satu cucu beliau yang paling mirip dengan mendiang  kakeknya. Dan ini menjadi nilai plus sendiri buat Kamal untuk mendapatkan hati nenek nya, apalagi neneknya sangat selektif menaruh hati kepada orang lain walaupun itu cucunya sendiri.
Hari demi hari terlewati dengan begitu cepat. Tak terasa sudah hampir sebulan Kamal berada di kampung halamannya. Sebenarnya tujuan Kamal untuk pulang ke kampung halamannya bukan hanya untuk mengobati rasa rindunya kepada keluarga. Namun, tanpa sepengetahuan 
bapaknya ternyata diam-diam ibu Salju mengutarakan keinginannya kepada Kamal untuk tidak melanjutkan pendidikannya lagi di negeri Taj Mahal tersebut. Tentu ini menjadi pertimbangan yang sangat berat buat Kamal, apalagi negeri tersebut telah memikat hati Kamal. Walaupun negara tersebut diasumsikan sebagai negara terkotor di dunia dan memiliki banyak kasus kriminal. 
Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat Kamal untuk tetap melanjutkan pendidikannya disana karena ia tahu semua itu bukan karena tidak beralasan. Bagaimana tidak, mayoritas masyarakat India merupakan penganut agama Hindu akibatnya hal sepele pun bisa menjadi hal besar, salah satunya ketika ada warga muslim menyembelih sapi sebagai kurban di hari raya idul adha. Sudah menjadi barang pasti, penganut agama Hindu akan protes keras karena mereka masih percaya paham animisme[4].
Sehingga kondisi ini menyebabkan daging sapi murah dijual karena tidak semua masyarakat mengkonsumsinya apalagi penganut agama Hindu. Justru ini menjadi kesempatan emas bagi Kamal untuk mengolah daging tersebut ke berbagai bentuk makanan. Apalagi ini makanan termahal di kampungnya, tidak heran berat badannya bertambah dua kali lipat dibanding awal pertama kali datang ke negara tersebut.
     Suara angin sepoi di malam hari di tambah cahaya terang purnama yang menghiasi malam ternyata tidak seindah hati Kamal yang sedang begejolak. Hati yang harus memilih antara mimpi dan harapan seorang ibu. Kamal percaya semua masalah pasti ada solusinya dan ia begitu yakin dengan rencana Allah padanya.Tak perlu menunggu waktu lama, setelah itu akhirnya Kamal memutuskan untuk mengambil jalan tengah, Kamal berjanji pada ibunya akan kembali ke India untuk sementara waktu sebelum pendaftaran dimana tempat dia bekerja dibuka.
Usut punya usut akhirnya Kamal tahu kenapa ibu menyuruhnya untuk bekerja. Tidak lain karena bisikan tetangga yang akhir-akhir ini banyak membicarakan salah satu tetangga Kamal yang sekolah di luar kota. Sebut saja namanya Rimi, karena terbelit ekonomi ia keluar dari keyakinannya sebagai muslim dan memeluk agama nasrani. Bukan hanya itu orang tua Rimi juga mendapat cibiran dan cemoohan dari masyarakat karena telah melanggar tuntunan agama, dan adat istiadat yang sangat menjunjung  tinggi agama Islam.
 Akhirnya,waktu keberangkatan Kamal tinggal menghitung waktu. Namun air mata ibunya mengalir bak sungai amazon yang deras dan tak tau kapan sungai itu akan kering. Melihat anaknya yang menjadi penyemangatnya selama ini akhinya pergi lagi meninggalakan luka lama yang terulang kembali. Namun itu semua disertai rasa ikhlas setelah mendapat pencerahan dari suami yang begitu setia menjadi obat ketika sakit, menjadi seteguk air ketika kehausan mencekam, dan menjadi penopang kesedihannya selama ini, dan meyakinkannya bahwa itu semua Kamal lakukan untuk kebahagian mereka semata.
Pikiran Kamal campur aduk disertai janjinya kepada ibu untuk segera dipenuhi, tak menunggu waktu lama pesawat yang akan di tumpangi Kamal akhirnya lepas landas meninggalkan bandara Kuala namu. Setelah satu hari satu malam ditempuhnya bersama orang tuanya. Dengan menaiki mobil L300 melewati jalanan yang sangat menantang adrenalin melebihi keterjalannya dari pada mendaki gunung Himalaya yang ia daki bersama temannya ketika waktu liburan. Dengan ditambah lagu Iwan Fals Perjalanan mereka rasanya tidak cocok dengan perasaan gundah yang ia rasakan. Perjalan tidak terasa sudah menit ke empat lima, rasa kantuk pun menyerang Kamal sehingga harus menyenderkan kepala nya pada kursi yang menurutnya lebih empuk dari kursi yang berada di kantor kelurahan yang terbuat dari rotan yang sesekali mengagetkan paha Kamal ketika duduk akibat paku-paku nya yang mulai bermunculan ke atas karena sudah makan usia.
Bagaimana tidak seingat Kamal umur kursinya sudah berumur dua dasawarsa, dalam hati kecilnya berkata suatu saat akan mengganti kursi tersebut sehingga lebih nyaman ketika menikmati kopi gayo, kopi yang menjadi pemasukan masyarakat belakangan ini karena omset nya yang lumayan menjanjikan tanpa harus mengeluarkan banyak biaya dalam perawatannya.
Kamal masih tertidur lelap dan tidak menghiraukan suara pramugari yang berlalu lalang disampingnya untuk menawarkan makanan. Yang munurut ujang nya masakan di pesawat kalah enak dengan kuah belangong masakan khas aceh yang terkenal kelezatannya, apalagi di temani kerupuk emping dari Bireun.Kamal memang percaya kepada Ujangnya. Siapa sangka lelaki yang memiliki suara merdu ini sudah menjajahi ke berbagai benua di dunia karena kepiawaiannya dalam memainnkan tarian saman, yang sudah di akui UNESCO sebagai salah satu warisan dunia yang harus dilestarikan.
Suara gaduh mengganggu tidur Kamal sehingga ia harus membuka matanya yang tertidur pulas ia melirik ke kanan dan ke kiri melihat semua penumpang berhamburan mencari alat pengaman ia melihat ada yang hanya pasrah di kursi masing masing dan ada juga yang masih ingin tetap berusaha menyelamatkan nyawa mereka masing masing tanpa menghiraukan orang-orang di sekitarnya. Kamal masih tidak percaya dengan semua ini ia merasa bersalah besar kepada ibu nya karena tidak mendengarkan perkataannya rasa penyesalan datang bagai angin tornado yang menghempaskan badan nya ke udara tanpa peduli rasa sakit yang di deritanya. Ia juga membayangkan betapa besar dosanya meninggalkan luka pada ibu yang telah telah mengorbankan jiwa dan raganya pada dirinya terutama ayah yang sudah banting tulang demi kelancaran sekolahnya tanpa peduli rasa sakit yang dideritanya.
Lampu merah dinyalakan dan berbunyi seperti suara burung gagak yang mengabarkan akan ada musibah, walaupun ini sebagai hal yang takhayul, namun tak jarang itu menjadi kenyataan walau hanya kebetulan semata. Kamal masih mengamati orang di sekelilingnya yang mungkin sebentar lagi akan berpindah alam ke tempat yang kekal selama-lamanya. Tak terlepas sepertinya pilot sudah kehilangan kendali dan sebentar lagi akan mendarat lebih cepat dari waktu yang sudah ditentukan dan akan menjadi berita terhangat di kalangan masyarakat dan memenuhi semua siaran televisi.
Suara keras keluar dari mulut Kamal, mungkin ini adalah teriakan paling keras yang pernah ia keluarkan seumur hidupnya. Ia membayangkan seandainya ia masih bisa mengulang waktu beberapa menit ke belakang dan membatalkan keberangkatannya sebelum ini semua terjadi, ia berjanji akan mendengarkan semua perkataan ibunya dan tidak mementingkan egonya.
“Aaaaaaaaa...” 
Teriakan itu keluar dari mulut Kamal lebih  kencang dari sebelumnya berharap ada keajaiban yang terjadi. Namun, apalah mau dikata nasi sudah menjadi bubur dan mustahil akan terulang kembali. Dan dalam hitungan setengah detik akan mendarat di lautan lepas dan mungkin tak ada lagi yang bisa menemukannya dalam kondisi utuh.
“Aaaaaaaaa...”
Teriakan itu memenuhi sudut kamar tidur. Tampaklah sosok yang paling ia cintai berdiri dan megelus keningnya yang dipenuhi keringat dingin. Suaranya yang begitu halus membangunkannya dari mimpi buruknya.
Kamal dengan cepat menuangkan air di kepalanya serta berwudhu, melaksanakan shalat sunah dua rakaat. Ia sadar ternyata ia hanya bermimpi buruk dan perasaan syukur tak lupa ia 

panjatkan kepada Allah SWT yang telah menyadarkannya bahwa sekarang lah saatnya mengabdi pada orang tuanya dan mengabdikan hidupnya pada negara. 
Ibu tersenyum melihat Kamal mengalami mimpi buruk. Ibu terngiang Kamal kecil yang pada masa kecilnya dahulu sering mimpi buruk karena lupa membaca doa sebelum tidur, akibat terlalu capek mencari belut yang menjadi hobinya di masa kecil silam.
    
                                                                           ***

Footnote 
  1. Gegaluh merupakan khas Gayo yang terbuat dari campuran tepung ketan, kelapa parut, gula dan garam yang digongseng sedemikin rupa hingga menjadi manisan.
  2. Win dalam bahasa Gayo merupakan sebutan untuk orang yang lebih muda.
  3. Persahabatan tari saman antar desa. 
  4. Percaya dan menyembah batu besar, kayu, hewan-hewan,dll. 








3 comments:

MALAYSIA

 OUR ACTIVITY IN MALAYSIA Bukit Gasing Petaling Jaya Malaysia.